Kamis, 01 Oktober 2009

RIWAYAT MUSIK ANGKLUNG ARUMBA





Hallo para blogger, semoga anda selalu dalam keadaan sehat wal afiat dan dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Melalui situs ini saya ingin memperkenalkan diri dahulu agar anda lebih dapat membayangkan diri saya sebagai berikut:

Pertama tentang nama. Nama saya di dalam KTP tertulis lengkap Mochamad Burhan. Ketika di Bandung, sejak kecil dan dalam lingkungan keluarga serta teman-teman, saya biasa dipanggil dengan nama Ujang, tetapi setelah pindah ke Jakarta, rekan-rekan saya di Jakarta memanggil saya dengan nama Djaka. Memang nama Djaka ini mempunyai riwayat tertentu yang kalau diceritakan cukup panjang dan saya kira rekan-rekan blogger tidak perlu untuk mengetahuinya.
Yang jelas saat ini saya mempunyai dua alias, yaitu Ujang dan Djaka.


Kedua mengenai tempat dan tanggal lahir. Menurut orang tua, saya dilahirkan di kota Bandung, Kota yang dahulu dikenal dengan julukan "Kota Kembang", "Paris van Java" dan "Kota Asia - Afrika". Dari ketiga julukan tersebut, mungkin tinggal Kota Asia-Afrika saja julukan yang masih relevan karena hal itu merupakan kenyataan sejarah dengan diselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955. Sedangkan kedua julukan yang lain saat ini sudah sangat jauh dari kenyataan. Selanjutnya tentang tanggal lahir. Hari kelahiran saya setiap tahun dirayakan di seluruh dunia. Betapa tidak, karena saya ternyata dilahirkan pada tanggal 25 Desember yang selalu dirayakan di seluruh dunia oleh umat kristiani sebagai hari Natal. Tetapi saya sendiri tidak ikut merayakannya karena saya tidak termasuk umatnya. Tentang tanggal lahir saya tepatnya adalah 25 Desember 1942. Dengan demikian saya ini sudah tergolong manula, karena ketika saya mengetik artikel ini saja umur saya sudah hampir 67 tahun. Tapi nggak apalah karena ada juga istilah "tua-tua kelapa", semakin tua semakin gaya.

Saya kira untuk perkenalan cukup sekian dulu karena yang ingin saya ceritakan lebih lanjut adalah yang menyangkut hobby saya yaitu musik angklung yang masih saya tekuni sampai saat ini...... Musik angklung yang pertama kali dikembangkan oleh bapak Daeng Sutigna sejak tahun 1938 itu merupakan suatu orkes angklung massal yang melodinya dimainkan secara kerjasama oleh puluhan orang bahkan ratusan orang, termasuk pengiringnya yang dinamakan akompanyemen dan co-akompanyemen serta string-bas (bas betot). Tetapi pada sekitar tahun enampuluhan, seorang seniman angklung bernama Yoes Rosadi mencoba memainkan angklung Pa Daeng ini secara perseorangan dengan cara menggantungkan angklung-angklung melodi Pa Daeng ini pada tiang gantungan 2 tingkat, dimana nada-nada pokoknya digantungkan pada tingkat bawah dan nada-nada sisipannya pada tingkat atas. Kemudian angklung melodi tersebut dimainkan oleh seorang pemain dengan cara mengetarkannya pada tiang gantungan terebut. Demikian pula dengan angklung akompanyemen dan co-akompanyemennya digantungkan pada tiang gantungan dan dimainkan oleh seorang pemain pula. Dengan demikian orkes angklung Pa Daeng tersebut cukup dimainkan oleh 4 orang pemain saja termasuk pemain bas. Mereka saat itu menamakan dirinya sebagai grup "ARUBA". ..... Saya sangat tertarik dengan permainan angklung secara perseorangan ini....... Kebetulan pada tahun 1966 saya mendapat kesempatan untuk melatih satu grup angklung perseorangan di kota Cirebon yang disponsori oleh seorang yang bernama Bapak Husein Amirullah, seorang pengusaha besar di kota Cirebon saat itu........ Yang saya latih pada waktu itu adalah anak-anak SMA di Cirebon dan groupnya dinamakan Grup "ARUMBA CIREBON"..... Nama ARUMBA diambil sebagai singkatan dari Alunan RUMpun BAmbu.......

Dalam kegiatan di Cirebon tersebut saya mencoba melakukan perubahan-perubahan, baik dalam bentuk maupun komposisi peralatan arumba ini......... Perubahan yang saya lakukan antara lain angklung melodi menjadi 4 tabung (2 indung dan 2 anak) dan diletakkan atau digantungkan secara sejajar antara nada pokok dan nada sisipan. Jadi tiang gantungannya hanya satu tingkat...... Demikian pula untuk angklung akompanyemen dan co-akompanyemen dalam fungsinya sebagai pengiring, saya ganti dengan calung diatonis-kromatis semacam gambang bambu, dengan maksud agar dapat lebih fleksibel dalam memainkan berbagai macam irama dan lebih mudah mendapatkan akor-akornya......

Pada tahun 1969, grup Arumba Cirebon ini sempat mengikuti Training Centre Kesenian Indonesia yang diprakarsai oleh Indonesian Artist Managemet (IAM) dibawah pimpinan Bapak Amir Syamsudin, yang diikuti oleh seluruh top artis Indonesia pada saat itu, antara lain grup tari Sumatra dibawah pimpinan Ibu Huriah Adam (Alm.), grup angklung "Guriang" pimpinan Bapak Daeng Sutigna (Alm) dari Bandung Jawa Barat, grup tari jawa dari Solo Jawa Tengah, grup tari bali Gong Begeg dari Bali serta top-top artis lainnya dari Kalimantan dan Sulawesi, dengan koreografer tari Bapak Sardono W. Kusumo...... Rombongan Kesenian Indonesia yang paling lengkap ini pada mulanya dipersiapkan untuk menyelenggarakan show-biz di Amerika Serikat.. namun sayang... disebabkan oleh satu dan lain hal... rombongan ini tidak jadi diberangkatkan...

Seiring dengan tidak jadinya rombongan kesenian Indonesia tersebut diberangkatkan, maka kegiatan saya di Cirebon pun berakhir...... Kemudian setelah saya kembali ke Bandung pada tahun 1970, kegiatan menggauli musik Arumba ini saya lanjutkan di Padepokan Saung Angklung Pa Udjo, jalan Padasuka Bandung..... Di tempat ini pun perubahan dan percobaan tetap saya lakukan untuk memenuhi kekurangan-kekurangan yang saya rasakan dalam bermain musiknya... Akhirnya, walaupun masih dirasa terdapat kekurangannya, sayapun mencoba menetapkan unit musik Arumba, dengan bentuk dan komposisi peralatan sebagaimana yang makin hari makin dikenal masyarakat ini.....

Komposisi peralatan musik Arumba yang saya tetapkan ini terdiri dari 1 set Angklung Melodi 3 tabung (2 indung + 1 anak) dengan susunan nada mulai dari e kecil sampai dengan c''' (c bergaris 3) sebanyak 33 buah angklung..... Angklung melodi ini digantungkan pada sebuah tiang gantungan dengan posisi sejajar antara nada pokok dengan sisipannya....


Angklung Melodi

Kemudian 4 buah Calung diatonis-kromatis, yaitu semacam gambang bambu berskala nada internasional (do-re-mi..) yang saya sebut dengan Calung Arumba atau disingkat dengan "Carumba".... Dari keempat buah carumba ini, dua buah diantaranya saya fungsikan sebagai carumba pengiring, sedangkan dua buah carumba lainnya saya fungsikan sebagai pengisi variasi dan improvisasi, atau dapat juga difungsikan sebagai melodi bergantian dengan angklung.......


Carumba (Calung Arumba)

Carumba Pengiring.
Carumba pengiring yang saya buat terdiri dari 2 set. Yang pertama (carumba pengiring 1) nada-nadanya saya susun terakhir kali mulai dari Fis oktaf besar sampai dengan a' (a bergaris satu) sebanyak 28 tabung, sedangkan carumba pengiring 2 susunan nadanya mulai dari E oktaf besar sampai dengan bes' (bes bergaris satu) sebanyak 31 tabung.

Carumba Melodi (Variasi/Improvisasi).
Carumba melodi (variasi/improvisasi) juga terdiri dari 2 set, susunan nadanya terdiri dari: e oktaf kecil sampai dengan a" (a bergaris dua) sebanyak 30 tabung untuk carumba melodi 1 dan B oktaf besar sampai dengan fis" (fis bergaris dua) sebanyak 32 tabung untuk carumba melodi 2......

Selanjutnya, peralatan lain yang saya buat untuk melengkapi arumba ini adalah Bas Bambu Besar. Untuk bas bambu ini saya ingin menyebutnya sebagai Bas Lodong..... Disebut lodong karena bentuknya memang mirip lodong, yaitu bambu besar yang yang di daerah Jawa Barat biasa digunakan sebagai tempat air nira dan disebut lodong. Bas Lodong ini fungsinya adalah sebagai bas seperti bas gitar pada musik band atau string bas pada orkes keroncong...... Untuk susunan nada bas lodong ini saya buat mulai dari nada Fis oktaf besar sampai dengan G oktaf kecil sebanyak 14 buah tabung.


Bas Lodong
Demikianlah garis besar bentuk dan komposisi peralatan musik angklung perseorangan yang telah saya susun sampai saat ini yang secara kaprah telah dikenal oleh masyarakat sebagai "musik arumba", walaupun sebenarnya sebutan "arumba" itu asalnya merupakan nama dari sebuah grup musik angklung perseorangan yang diambil dari singkatan Alunan Rumpun Bambu.

Dalam perjalanan saya mengolah bentuk dan komposisi peralatan musik arumba ini, pernah juga saya menerima saran atau usul serta pertanyaan seperti: ...Mengapa carumba atau gambang - gambang bambu diatonis itu tidak disusun seperti vibraphone, dimana nada-nada kres dan mol diletakkan di sebelah atas dari nada-nada pokoknya, sehingga yang biasa memainkan piano atau organ dapat dengan mudah memainkannya?....... Jawaban saya atas pertanyaan seperti ini mungkin agak egois, tapi itulah yang menjadi prinsip dan keinginan saya. Pertama, saya menginginkan agar kesenian tradisional atau nasional Indonesia itu tidak meniru kesenian asing, tetapi memiliki ciri khas dan kepribadian tersendiri. Oleh karena itulah antara lain untuk carumba (gambang bambu), nada-nadanya saya susun sejajar antara nada pokok dengan nada sisipannya, tidak seperti vibraphone yang nada-nada sisipannya diletakkan disebelah atas. Kedua, sayapun melihat bahwa ciri khas seluruh alat kesenian tradisional Indonesia yang berbentuk gambang, nada-nadanya disusun sejajar, seperti gambang gamelan, saron, calung dan lain-lain. Ketiga, jika seluruh carumba dibentuk seperti vibraphone ternyata ditemui kesulitan dalam memainkan beberapa sistim pukulan dalam arransemen musiknya.

Selanjutnya, tentang bentuk dan komposisi peralatan musik arumba yang saya susun ini, yaitu yang terdiri dari 1 set angklung melodi, 4 set carumba dan 1 set bas lodong tersebut, tadinya memang hanya merupakan kreasi yang saya buat sesuai dengan kebutuhan saya dalam mengolah arransemen lagu-lagu yang dimainkan. Mengenai komposisi peralatan ini sebetulnya setiap orang bisa saja membuat komposisi peralatan sendiri, misalnya untuk pengiringnya kembali menggunakan angklung akompanyemen dan carumbanya cukup 2 set saja, ataupun komposisi lain sesuai dengan keperluannya. Tetapi pada saat ini komposisi peralatan yang telah saya susun seolah-olah telah menjadi komposisi yang baku; Artinya apabila anda membeli 1 unit alat musik arumba dari produsen angklung manapun, anda akan memperoleh peralatan musik arumba dengan komposisi seperti yang telah saya susun tersebut.

Inilah komposisi 1 unit peralatan musik arumba:


Satu Unit Arumba (Dilengkapi dengan conga)

Apakah maksud dan tujuan saya menceritakan riwayat musik angklung arumba ini?.....

Tadinya saya tidak mempunyai niat untuk membuat dan menerbitkan artikel pengalaman saya ini kepada para blogger...... Tetapi ketika saya mengetahui adanya berita tentang pengakuan kesenian musik angklung oleh negara Malaysia, hati saya menjadi terusik..... Kesenian musik angklung yang sejak tahun 1938 telah dikembangkan oleh Bapak Daeng Sutigna sehingga menjadi salah satu kesenian kebanggaan bangsa Indonesia dan selalu ditampilkan dalam hampir setiap misi-misi kesenian Indonesia ke Mancanegara, tiba-tiba saja diakui oleh negara Malaysia sebagai kesenian miliknya.... Ini memang sudah keterlaluan!... Pengakuan oleh Malaysia tersebut sangat-sangat menyinggung perasaan para aktivis musik angklung Indonesia yang telah menekuni dan mengembangkan kesenian musik angklung ini sejak tujuh puluh tahunan yang lalu!......... Bangsa Malaysia kelihatannya memang menyenangi juga kesenian musik angklung ini sehingga mereka dalam beberapa tahun belakangan ini mencoba juga mengembangkan kegiatan musik angklung ini di negaranya...... Namun patut diketahui bahwa untuk kegiatan ini, segalanya mereka mengimport dari Indonesia, baik peralatan musiknya maupun tenaga akhli atau guru-gurunya!......... Oleh karena itu, bagaimana bisanya orang Malaysia mau mengakui bahwa kesenian angklung adalah miliknya dan berasal dari negaranya?..........

Berkaca kepada kejadian dan kenyataan tersebut diatas, maka saya sebagai salah seorang penyinta, pemerhati dan aktivis musik angklung, merasa terpanggil untuk mencurahkan hal-hal yang saya ketahui tentang perkembangan musik bambu dan angklung yang sudah cukup lama juga saya geluti (musik angklung arumba), dengan harapan agar dapat diketahui oleh lebih banyak orang sehingga kelak kita tidak akan kehilangan data-data dan fakta sejarah, terutama dalam menghadapi kasus-kasus pengakuan seni oleh fihak lain.

Nah, mengingat bahwa artikel tentang "Riwayat Musik Angklung Arumba" yang telah saya tuliskan ini di kemudian hari dapat dijadikan sebagai data dan fakta sejarah, maka kebenarannya tentu harus teruji. Oleh karena itu, atas tulisan saya ini, saya sebenarnya sangat mengharapkan tanggapan, saran, kritikan ataupun pendapat dari para blogger atau siapapun pemerhati yang memiliki komitmen terhadap kehidupan kesenian musik angklung atau musik bambu pada umumnya di negara kita Indonesia yang tercinta ini...........

Kepada para pembaca artikel saya ini yang mungkin mempunyai pengalaman dan atau mengetahui sejarah perkembangan musik angklung, khususnya musik angklung arumba yang lebih jauh dari apa yang telah saya tuliskan di atas, saya mengundang anda untuk berbagi pengalaman atau pengetahuan anda tersebut dan menuangkannya dalam blog anda... Terima kasih.



Benyamin S. diiringi Arumba Sanggar Seno Pejaten Jakarta Selatan dalam acara siaran TVRI





Hetty Koes Endang diiringi Arumba Sanggar Seno Pejaten Jakarta Selatan, dalam siaran TVRI



23 komentar:

  1. Terima kasih atas kisah yang mencerahkan ini Pak Burhan. Semoga jadi fakta sejarah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali atas perhatian Pak Mursito atas tulisan saya..... Dapat saya beritahukan bahwa sampai saat ini saya masih terus aktiv menggauli dan berusaha mengembangkan musik angklung arumba ini dengan bernaung di "Rumah Angklung" yang bertempat kegiatan di Pasar Raya Grande Blok M Lantai 3 Jakarta Selatan.... Harapan saya musik Angklung Arumba yang unik ini dapat benar-benar menjadi salah satu icon Indonesia dalam pergaulan budaya dunia, karena saya berpendapat bahwa musik angklung arumba ini merupakan suatu anugrah dari Tuhan Yang Maha Kuasa bagi bangsa Indonesia.... Betapa tidak, karena ternyata musik angklung arumba ini merupakan satu-satunya musik di dunia yang peralatan pokoknya terbuat dari bahan asli tumbuh-tumbuhan yang dinamakan bambu.... Tanpa adanya rekayasa lagi, fisik (batang) pohon bambu yang ditebang dari kebun bambu itu setelah dikeringkan langsung dibuat nada-nada dalam berbagai ukuran dan disusun sedemikian rupa sehingga dapat langsung dimainkan menjadi sebuah orkestra yang indah.... Luar biasa !.. kata orang asing... Amazing !!....

      Hapus
    2. MSI siap untuk ikut melestarikan musik ARUMBA

      Hapus
  2. Hallo para blogger dan pembaca yang saya hormati... semoga di tahun 2014 ini segala rencana dan upaya anda untuk mencapai hal-hal yang lebih baik dari tahun-tahun yang lalu dapa terlaksana dengan lancar dan memuaskan.... aamiin....

    Selanjutnya di awal-awal tahun 2014 ini saya ingin kembali berbagi informasi dan pengalaman yang saya dapatkan, yang khususnya berkaitan dengan pergaulan saya dengan musik Angklung Arumba dan perkembangannya, yang mudah-mudahan ada manfaatnya bagi para pembaca sekalian.....

    Alhamdulillah, dalam perkembangannya, model musik angklung arumba yang saya geluti sampai saat ini ternyata mendapatkan perhatian yang cukup luas dikalangan pelaku seni. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya grup-grup musik angklung arumba yang muncul di masyarakat dengan berbagai kreasinya masing-masing..... Namun disamping itu, satu hal yang ingin saya utarakan lebih dahulu dan yang membuat surprise bagi saya adalah bahwa pada tanggal 23 April 2012, saya telah mendapatkan Penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), yaitu berupa Penghargaan Rekor sebagai Pencipta Alat Musik Arumba........... Penghargaan ini memang agak "mengagetkan" saya dan membuat saya risih dengan istilah yang digunakan oleh MURI yaitu sebagai "pencipta" Alat Musik Arumba.... Oleh karena itu saya memandang perlu untuk memberikan klarifikasi dan penjelasan lebih lanjut tentang Penghargaan MURI bagi saya ini.............

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat dan Terimakasih atas semua Ide Kreatif yang bapak berikan terhadap masyarakat musik bambu.

      Yadi,
      salam

      Hapus
    2. Terimakasih Yadi atas perhatiannya. Apakah anda juga menggauli musiknya?....

      Hapus
    3. Mantab Abah Burhan, tetap berkreasi Abah, walau usia sudah lansia

      Hapus
    4. Mantab Abah Burhan, tetap berkreasi Abah, walau usia sudah lansia

      Hapus
  3. Saya sangat berterima kasih kepada Lembaga Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) yang telah memberikan penghargaan kepada saya sebagai pencipta alat musik Arumba..... Namun atas penghargaan ini saya merasa perlu untuk memberikan koreksi atau penjelasan lebih lanjut atas istilah "pencipta" yang diberikan kepada saya itu, agar tidak menimbulkan salah pengertian dan agar para pembaca atau masyarakat umumnya dapat mengetahui sebenarnya saya itu sebagai siapa....

    Istilah pencipta dapat memberikan pengertian bahwa seolah-olah sayalah yang menciptakan seluruh alat-alat musik Arumba itu, sayalah yang menciptakan alat musik angklungnya, sayalah yang menciptakan alat musik calungnya. Sesungguhnya tidak demikian. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa alat musik angklung itu sudah diciptakan oleh seniman kita sejak berabad-abad yang lalu. Demikian pula dengan alat musik calung yang diperkirakan telah diciptakan oleh seniman2 kita ribuan tahun silam.... Nah dengan demikian posisi saya dalam hal ini sebenarnya hanyalah sebagai pembuat kreasi (kreator) yang menciptakan atau menyusun suatu komposisi (sebagai komposer) dari alat-alat musik yang telah diciptakan seniman2 kita terdahulu itu (Angklung, Calung dan Bas Lodong) sedemikian rupa sehingga membentuk suatu kelompok alat musik dari bambu yang saat ini dikenal dengan sebutan Arumba.......

    Sebagaimana telah kita ketahui bersama, Bapak Daeng Sutigna pun bukanlah orang yang menciptakan
    alat musik angklung. Beliau hanyalah seorang kreator yang mengubah alat musik angklung yang asalnya bernada pentatonis menjadi angklung bernada diatonis
    dan kemudian menyusun komposisi angklungnya dalam berbagai oktav serta melengkapinya dengan angklung-angklung pengiring (akompanyemen) sehingga dapat dimainkan menjadi suatu orkestra bambu yang indah.......

    Demikianlah penjelasan saya tentang penghargaa MURI yang telah saya terima sebagai "pencipta" alat musik Arumba...............

    Semoga semuanya menjadi jelas sehingga dapat menempatkan persoalannya secara proporsional...
    Bagi saya yang pasti tetap semangat dan menghimbau kepada masyarakat Indonesia... marilah kita terus mengembangkan musik bambu Angklung Arumba sebagai salah satu icon bangsa Indonesia dalam pergaulan budaya Dunia...............................

    "ANGKLUNG IS INDONESIA"

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulilah , tetap semangat abah

      Hapus
    2. Terimakasih Ipeh...Sudah lama banget baru saya jawab.... Semoga Ipeh betah merawat orang2 yang lagi sakit dan jadi Perawat Teladan.😇

      Hapus
  4. Kang Ujang Burhan kenal sareng Kang Willyana ? Pas arumba De Prink

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kang Faqih Ainul Bayan..., sama kang Willyana (kang Uil) mah bukan kenal lagi, malah sudah seperti saudara sendiri saya teh dengan dia mah.... Namun benar-benar tidak disangka, ternyata Allah SWT telah memanggilnya kembali ke alam baqa lebih dahulu daripada kita...... Semoga arwah kang Uil mendapat ketenangan dan ketentraman di alam sana, sebagai pertanda bahwa Allah mengampuni dan memaafkan segala dosa dan kekhilafannya selama hidup di dunia.... aamiin YRA..... Kang Uil itu boleh dikatakan sebagai salah satu "pahlawan" musik angklung arumba juga, karena ternyata sampai akhir hayatnya ia tekun mengikuti jejak saya menggauli musik angklung arumba sehingga dapat memberikan manfaat khususnya bagi diri dan keluarganya serta bagi masyarakat pada umumnya............. Kalau boleh tahu kang Faqih Ainul Bayan ini apanya kang Willyana ya?.... Apakah ada hubungan keluarga dan apakah juga aktiv dalam menekuni musik angklung arumba ini? ....... Yaa kalau tidak keberatan boleh juga diceritakan lebih detil untuk mempererat tali silaturakhmi kita....... Terima kasih ya......

      Hapus
    2. Kang Burhan : Aamiin :) Dulu saya muridnya angklung Kang Uil, terus saya jadi muridnya di arumba juga. Saya tau the prink dari beliau :) Tau Kang burhan dari beliau juga.Saya pemain arumba HARPA 4 kang :)

      Hapus
    3. Ooo begitu ya kang Faqih.... ya syukurlah kalau selanjutnya kang Faqih menekuni juga musik Angklung Arumba ini..... Perdalamlah terus pengetahuan dan keterampilan musiknya sehingga ilmunya dapat lebih bermanfaat bagi diri sendiri, bagi masyarakat dan bagi pengembangan musik Arumba itu sendiri.... Istiqomahlah dan jangan berhenti di tengah jalan dalam menggauli musik Arumba ini..... Insha Allah kang Faqih akan memetik manfaatnya kelak..... Aamiin YRA.....

      Hapus
    4. Aamiin... terimakasih banyak kang :) Kang, kapan-kapan kalau ada waktu, faqih ingin bisa ketemu lansung sama Kang Burhan :) Ingin belaja arumba dari Akang :)

      Hapus
  5. alhamdulilah , kami dari mahasiswa akper bina insan jakarta utara sangat bangga sama abah , walaupun diusia senja ini tapi semangat abah tetap jiwa muda .. kami sangat cinta dengan arumba .. tetap semangat abah ... kami anak muda cinta dengan permainan tradisional arumba.. jaga kesehatan abah -

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo Syareefa.... syukur alhamdulillah jika Syareefa dan rekan2 benar-benar menyenangi dan menyintai musik angklung Arumba...... Itu berarti bahwa rasa nasionalisme dan jiwa kebangsaan Syareefa dan kawan2 masih cukup tinggi dan tidak terkontaminasi oleh berbagai budaya dari luar....... Kemudian hal itu juga menambah keyakinan saya bahwa ternyata bangsa Indonesia itu masih ada...... sebab kenyataannya sekarang banyak juga anak2 muda yang dalam KTP kebangsaannya Indonesia, tapi ternyata seleranya budaya asing.... inilah yang menghawatirkan kita...Jika semakin banyak generasi muda yang selera budaya nasional tradisionalnya semakin luntur, maka nanti bangsa Indonesia bisa tinggal nama saja........ Na'udzubillahi mindzalik!........Trus saya juga merasa gembira dan bersyukur karena para petinggi Akper Bina Insan sampai saat ini masih mempertahankan tradisinya menggunakan musik Arumba dalam kegiatan akademisnya seperti Wisuda dan Ucap Janji Mahasiswa. ......Sebetulnya Akper Bina Insan patut mendapatkan penghargaan karenanya...... Terima kasih Akper Bina Insan.........

      Hapus
  6. Pak Burhan yth,

    Saya datang lagi ke situs ini, men-cek ulang sejarah, karena besok (tgl 28) mau sidang terbuka disertasi. Tak terasa sudah setahun lalu pertama kali saya kirim komentar (26 Maret 2013), dan baru kemarin (25 Maret 2014) Pak Burhan baru mengisi komentar.

    Mudah-mudahan ini jadi pertanda Baik buat saya Besok. Oh iya Pak, kenalkan. Saya yang membuat angklung robot (Klungbot), dan saya kenal baik dengan Kang Tata, pengrajin angkung yang suka ke rumah angklung Jakarta. Semoga lain kali bisa bertemu.

    Salam hormat.


    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamu'alaikum pak Mursito..... waduuh pak, saya memang tidak begitu sering membuka- buka situs saya ini dan pas saya membukanya pada tgl. 2 Juni 2014 ini...eh ternyata ada pak Mursito yang telah berkunjung ke situs saya ini pada bulan Maret 2014..... Jadi sudah sekitar 2 bulan yang lalu..... Mohon maaf saya baru menyambutnya saat ini.... Alhamdulillahi Robbil alamiin kalau ternyata pak Mursito inilah yang telah membuat angklung robot (Klungbot) itu..... Waduh pak saya benar2 turut bangga dengan ciptaan bapak itu.... Itu kan yang turut dipamerkan pada acara Festival Bambu Nusantara 8 di Balai Sidang Senayan Jakarta ya Pak?.... Saya sudah melihatnya juga saat itu... Klungbot yang antara lain membawakan lagu Bengawan Solo dan ada juga lagu barat yang cukup memikat dengan arransemen yang diprogram pada komputer..... Bukan main itu suatu inovasi yang luar biasa dalam perkembangan kehidupan musik angklung dalam era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini..... Saya sangat menghargai kreativiti bapak dan semoga bapak tidak bosan2nya untuk terus berkreasi dan menemukan inovasi2 baru lainnya dalam menyemarakan kehidupan musik angklung pada khususnya dan musik bambu pada umumnya yang benar2 telah menjadi milik dan salah satu icon dari bangsa dan Negara Indonesia ini... Oo iya... bagaimana dengan desertasinya?... Apakah desertasi bapak tersebut ada kaitannya dengan perangklungan juga?...... Kalau ada, boleh juga hasilnya bapak share melalui blog ini.....terima kasih... Wassalam..

      Hapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. saya sangat apresiasi apa yg bapak lakukan utamnya dalam hal pelestrian musik tradisional !! kami juga dari sul_sel punya musik tradisional yang juga dri bambu cuma yang jdi kendla musik tradisional itu boleh dibilng hampir punah krna kurngnya generasi muda yang inngin meleatrikannya maka dari itu sebagai genersi muda kami ingin membuat sebuah lembaga pemerhati seni musik bambu yang tujuan nya tdk lain adalah untuk melestrikan dan menghidupkan kembali seni musik tradisional itu , harap saran dan masukannya !

    BalasHapus